Banjir Bandang Lebak Akibat Kerusakan Lingkungan

Banten, Dampak kerusakan lingkungan di hulu ,Lebak Gedong dan Cipanas terkena dampak meluapnya sungai Ciberang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, M Juhriyadi menyebut bahwa salah satu penyebab terjadinya banjir bandang di Kabupaten Lebak akibat dari penebangan pohon.

Penebangan pohon di Kabupaten Lebak menjadi fenomena biasa. Pasalnya setiap proyek pembangunan, baik nasional maupun daerah selalu terjadi penebangan pohon.

“Penebangan pohon, penebangan pohon terutama hutan rakyat,” kata Juhriyadi kepada wartawan. Kamis, (2/1/2020).

Kabupaten Lebak sedang terkena banjir bandang. Ada 5 kecamatan yang terdampak (Lebakgedong, cipanas, sajira, rangkasbitung, dan sobang).

Warga yang hendak ke Muncang atau sebaliknya, harus memutar ke Leuwidamar dan Rangkasbitung sejauh kurang lebih 50 km lantaran jembatan gantung lain juga putus.

Banjir luapan sungai Ciberang terjadi di sejumlah titik di Kecamatan Cipanas dan Sajira. Banjir sudah masuk ke pemukiman di Nunggul dan Bujal Cipanas, serta Somang, Sajira.

Hujan yang terjadi kemarin malam, 31 Desember 2019 merupakan curah hujan ter-extreme yg terjadi dari tahun 1996 di tambah daya dukung lingkungan yang sudah berada pada titik jenuh, maka bencana alam akan menjadi “kawan” sehari-hari.

Seperti yang terjadi di lebak ,meluapnya sungai ciberang menjadi pelajaran berharga untuk kita masyarakat

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mencatat sebanyak 320 rumah dan 14 jembatan mengalami rusak akibat banjir bandang yang melanda 6 Kecamatan di wilayah Lebak.

Berdasarkan data dari BPBD Lebak, enam kecamatan yang terdampak meluapnya dua sungai yakni Ciberang dan Cidurian yakni Kecamatan Sajira, Cipanas, Lebakgedong, Curugbitung, Maja dan Cimarga.

“Total desa terdampak sebanyak 17 desa di 30 titik lokasi dengan jumlah kerusakan rumah sebanyak 135 rusak berat, 185 rusak ringan dan 1.747 rumah terendam,” kata Kepala Pelaksana BPBD Lebak Kaprawi, Kamis (02/01/2020).

“Ini di kampung halaman saya. Di sana tambang galian pasir seperti tak terkendali. Hutan dibabat. Tuan-tuan tanah bak demang demang penguasa kecil. Tabiatnya masih sama sejak zaman Multatuli. Siapa bilang roman itu hanya isapan jempol?!” ucap Boni Triana penduduk setempat

“Sekali waktu lewat sana dan memang iya yg dikatakan mas Boni , jalanan penuh dengan truk truk pengangkut pasir, becek dengan adonan pasir. Ketika melirik ke sebelah kanan kiri jalan, miris melihat galian yg tak terkendali .” imbuhnya Titiana warga Rangkas yang bermukim di serang

“Liat galian pasir jalur KRL Rangkas – Maja aja ngeri2 sedap.” tambahnya

Untuk meminimalisir dampak kerusakan lingkungan dan korban jiwa pada masa masa mendatang, hendaknya ada upaya dari Pemerintah Daerah, DPRD agar menyadarkan masyarakat daerah tersebut untuk selalu memelihara keseimbangan lingkungan

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply