UIN Jakarta dan Kemenag Dituding Monster Merampas Tanah Warga Puri Intan

Laporan : Purwanto / Farhat Muhidin

Ciputat Timur, tangselkita – Yayasan Pendidikan Muslim Islam Ikhsan (YPMII) mengembangkan lembaga pendidikan dan pondok pesantren.  Institusi ini menyiapkan tanah yang sudah di kapling-kapling untuk diperjualbelikan. Awalnya, YPMII membeli tanah adat dari warga setempat di Ciputat (kini menjadi wilayah Ciputat Timur.red) Berikutnya YPMII menjual ke warga yang sekarang menjadi asrama santri pasca digusur  oleh UIN.

Tahun 1978 lahan yang berada di Kampung Pisangan, Desa Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang (kini Kelurahan Pisangan Kecamatan Ciputat Timur) memicu pendatang dan pribumi untuk membeli lahan yang  dikapling tersebut. Diketahui, Kepala Desa setempat tahu ihwal dalam transaksi jual beli lahan kosong yang dimiliki YPMII.

Warga korban penggusuran, Damaria Listyarti (49 tahun) 05/11/19 menjelaskan, orangtuanya membeli sesuai prosedur yang sah. Korban gusuran berjumlah sembilan kepala keluarga.

“Ibu saya membeli sah, diketahui Atmaja, Kepala Desa Pisangan saat itu. Sebelum dibayar kami cek tidak ada masalah”, tegas Damaria yang memiliki surat girik bernomor Surat Girik Tahun 1979 No 3691, dan Akte jual beli dan surat bebas sengketa.

Menurutnya, tanah yang dibeli itu. secara hukum kuat untuk diproses menjadi Sertifikat Hak Milik.

Damaria, bilang ini bukan sengketa tetapi perampasan hak warga negara Damaria  berupaya menuntut keadilan ke pemerintahan Kota Tangerang Selatan. Pemerintahan Jokowi, menurutnya agar mengembalikan rumah yang sudah di buldozer secara paksa oleh UIN dan Depag RI.

Hal yang sama dialami Emi (65). Eksekusi rumahnya seperti mengusir hewan. “Bapak sedang makan kala itu, semua barang barang di dalam rumah dilempar. Akibatnya bapak shock lalu meninggal dunia, dzolim UIN,  sangat dzolim” ucapnya sedih.

Emi tidak menyangka lembaga pendidikan islam tidak berperilaku seperti muslim.

“Mereka seperti monster membabi buta. Rumah kami di perumahan Puri Intan hancur lebur,” paparnya jengkel

Sementara,, Dahlan Pido advokat ACTA menengarai ada skenario besar yang sudah direncanakan secara matang oleh UIN dan Depag.

“Ini perampasan lahan warga oleh oknum semena mena, berkedok Yayasan yang mendapatkan dana hibah sebesar Rp 99 juta yang kemudian digunakan untuk perluasan YPMII. Belakangan diketahui, dana hibah tersebut bukan untuk perluasan Yayasan, tetapi sebagai pelunasan tanah. Padahal di tanah tersebut sudah ada warga yang memiliki dokumen hukum sah,” Ungkapnya.

Persoalan itu  diketahui UIN, dan disinilah UIN melihat adanya celah bila lahan tersebut bisa di rampas. Perampasan ini skenario besar beraroma politik,” tegas Pido.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply