Akibat Jakarta Banjir ,Tangsel Harus menyiapkan DAS yang jelas ,sebagai Penyangga Jakarta

tangsel. DAS (Daerah Aliaran Sungai) sejak tahun 80an sudah dilakukan secara akademis. Dalam kerangka teori sudah diakui dunia. Anda bisa baca tulisan Linsley ( Water Resources Engineering ) dan jurnal dari IFPRI (International Food Policy Research Institute ).

Bahwa DAS merupakan ekosistem, dimana unsur organisme dan lingkungan biofisik serta unsur kimia berinteraksi secara dinamis dan di dalamnya terdapat keseimbangan inflow dan outflow dari material dan energi.

pengelolaan DAS dapat disebut suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) dengan upaya menekan kerusakan seminimum mungkin agar distribusi aliran air sungai yang berasal dari DAS dapat merata sepanjang tahun.

anda bisa lihat Sungai di Surabaya. Terliat menyatu dengan lingkungan dan indah. Untuk lebih keren, anda bisa lihat sungai di tengah kota Seoul. Bukan hanya tertata dgn baik, malah jadi objek wisata. Juga di Shanghai dan Shenzhen, sungai terkelola dengan baik sesuai fungsinya.

Nah mengapa ada program Normalisasi sungai? konsep dasarnya adalah mengembalikan fungsi asli sungai agar 15 DAS yang ada di Jakarta dapat dikelola. Bukan hanya untuk mengendalikan banjir tetapi juga untuk menjaga ekosistem.

Lantas mengapa ada istilah normalisasi ? karena memang 15 DAS yang ada di Jakarta itu bisa dikatakan tidak lagi normal. Karena, luas sungai sudah berkurang akibat hunian yang berada di bantaran kali.

mereka bukan hanya tinggal di bantaran Sungai, tetapi juga sudah merampas kali dgn cara menguruk sungai untuk tempat tinggal. Sementara sungai yg ada akibat berjejalnya tempat hunian, jadi tempat pembuangan sampah. Sungaipun jadi kotor, air terhambat & semakin dangkal.

Program pengelolaan DAS bukan hanya DKI tetapi juga di daerah lainnya. Seperti kawasan Bogor juga harus menjaga dampak buruk dari adanya kerusakan hutan ( deforestasi), seperti kemiringan lereng, karakteristik tanah, dan kurangnya area resapan air.

Akibat pembangunan yg berlangsung berpuluh tahun tanpa pengendalian lingkungan, deforestasi tidak bisa dihindari di kawasan Bogor. Sehingga apabila hujan, tanah di perbukitan Puncak semakin mudah terseret air, lalu menggelontor ke sungai dan menjadi sedimentasi.

Untuk wilayah Kota Tangerang Selatan ,seharusnya sejak dini jangan tunggu populasi penduduk membludak dan pada akhirnya menggunakan lahan pinggir sungai ini dikemudian hari membawa dampak buruk.untuk itu normalisasi sungai yang melintasi Kota Tangerang selatan sudah segera di lalukakan

Menurut Bambang Sudiono ,pengolahan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), limbah cair, limbah padat dan limbah gas yang dihasilkan oleh berbagai usaha di kota ini. “Penegakkan ini harus tegas dilakukan karena dari pemantauan yang kami lakukan, kondsi sungai di Tangsel seluruhnya sudah tercemar,” tegas Bambang Sudiono.

Di Tangsel, kata Bambang Sudiono ,saat ini dilalui tiga sungai besar yakni Cisadane, Angke dan Pesanggrahan. Untuk sungai Cisadane memiliki lima anak sungai, sungai Angke memiliki 12 anak sungai dan sungai Pesanggaran mempunyai satu anak sungai.
“Seluruhnya sudah tercemar. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Banyak pengusaha yang melanggar lingkungan. Saya minta semua tertib,” tegas dia.

Bambang Sudiono menegaskan, tindakan itu dilakukan bukan berarti pihaknya menghalang-halangi pengusaha untuk berinvestasi di Tangsel

“Kami justru mendorong pengusaha melakukan investasi, tapi jangan sampai mereka juga melalaikan lingkungan,” ujar dia.

“Kita masih ingat ,Tangsel tahun 2016, BLHD mencanangkan sebagai tahun penegakkan hukum. Kami akan bersikap tegas terhadap para pelanggar lingkungan,” ingat itu saat sosialisasi DAS

Nah sekaranglah kita juga harus tegas kepada pengembang tentang Amdal lingkungan dan DAS agar dikemudian hari tidak terjadi seperti kota Jakarta ,kita selaku Kota Penyangga harus punya ketegasan demi masyarakat Tangsel kususnya ” Tegas Bambang Sudiono

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply