Kota Tangerang Selatan Menjadi Kota yang tumbuh pesat, stabil dan didorong sektor jasa

Tangselkita.com, Kota-kota ini tak pernah melempem. Selama hampir satu dekade terakhir, kawasan ini tumbuh pesat, lebih cepat dari 514 wilayah lain di Indonesia, dan stabil. Daerah yang digerakkan terutama oleh sektor jasa ini, ditopang oleh anak-anak muda yang jumlahnya melimpah.

Sejak era otonomi daerah awal 2000-an, perekonomian tak lagi terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya atau Medan, tapi menyebar ke banyak daerah. Kebijakan otonomi telah mengalirkan sebagian dana pembangunan langsung dari pusat ke kabupaten/kota. Di sinilah, dana otonomi ini menyemaikan bibit-bibit pertumbuhan baru.

Aliran dana ini memang tak seketika menyulap daerah jadi berkilau, tapi, menurut ekonom Universitas Indonesia Ari Kuncoro, otonomi merupakan titik awal dari proses evolusi. Ada daerah yang tumbuh cepat, tapi banyak pula yang tetap stagnan atau malah melorot. “Daerah yang punya bibit perekonomian dari sektor jasa dan perdagangan, biasanya akan tumbuh,” kata Ari pada Lokadata.id, Senin (6/1/2020).

Selain aliran dana otonomi, ada sejumlah perkembangan lain yang membuat banyak daerah berdenyut dalam irama yang berbeda. Pelambanan ekonomi China sejak 2012, misalnya, mengerem tingkat permintaan pada komoditas. Akibatnya, pertumbuhan daerah yang mengandalkan ekspor kelapa sawit, batubara, atau mineral tambang lain, ikut melamban.

Pembangunan infrastruktur (jalan tol, bandara, pelabuhan laut dan jaringan kapal tol-laut) yang digenjot Presiden Joko Widodo, juga ikut mengubah peta pertumbuhan di daerah. Selain itu, mobilitas kelas menengah yang kian santer, berkat perkembangan teknologi digital dan pembangunan infrastruktur, memberi “bensin” pada beberapa kota/kabupeten tertentu.

Tumbuh stabil, berlimpah anak muda dan belanja non-makanan

Perubahan-perubahan ini membuat pertumbuhan wilayah di Indonesia bergerak dinamis. Untuk menyisir daerah-daerah potensial yang melesat cepat itu, Lokadata mencermati laju pertumbuhan PDRB (produk domestik regional bruto) pada 514 kabupaten/kota dan membandingkannya dengan pertumbuhan nasional.

Dari penyisiran itu, kami menemukan 100 daerah yang selama sembilan tahun terakhir, selalu tumbuh lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional. Daftar panjang ini, kami peras lagi dengan menyisihkan wilayah yang melonjak hanya pada satu dua tahun (spike), tapi gagal mempertahankannya dalam jangka panjang.

Harus diakui, indikator pertumbuhan ekonomi memang mengandung sejumlah kelemahan. Ukuran yang merekam seluruh output barang dan jasa itu, misalnya, tak menghitung “biaya” lingkungan. Pertumbuhan ekonomi bisa saja didorong oleh pembabatan hutan. Selain itu, PDRB ini juga tak menggambarkan distribusi kesejahteraan. Boleh jadi, pertumbuhan ekonomi tersebut hanya dinikmati oleh sebagian kecil populasi.

Lepas dari berbagai kelemahan itu, para ekonom umumnya sepakat perekonomian perlu tumbuh, dan selalu tumbuh, pada laju yang “cukup”. Pertumbuhan diperlukan agar tersedia lapangan kerja baru, agar generasi mendatang lebih baik dari orang tuanya dan agar standar kehidupan masyarakat meningkat.

“Lebih banyak pertumbuhan itu lebih baik — titik,” kata Robert J. Gordon, seorang ekonom Northwestern University yang banyak meneliti soal produktivitas, pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran.

Kabupaten/Kota yang tumbuh menderu.
Kabupaten/Kota yang tumbuh menderu. Lokadata / Lokadata
Selain indikator pertumbuhan yang stabil, Lokadata juga menyaring daerah-daerah potensial dengan dua variabel lain: (1) tersedianya angkatan kerja yang melimpah, dan (2) porsi pengeluaran non-pangan yang lebih besar ketimbang pengeluaran untuk makanan.

Angkatan kerja (kelompok usia 15-65 tahun) yang melimpah menunjukkan adanya “bonus” demografi: jumlah penduduk usia produktif lebih besar ketimbang mereka yang mesti ditanggung (tidak produktif). Sementara itu, besarnya pengeluaran non-pangan menunjukkan adanya ruang anggaran yang cukup longgar untuk belanja di luar kebutuhan pokok.

Dari ketiga variable itu (pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan stabil; jumlah tenaga kerja yang semakin melimpah; serta porsi pengeluaran non-pangan yang besar), Lokadata menemukan sembilan wilayah kabupaten/kota pilihan yang berpotensi untuk terus berkembang di masa datang.

Bergeser dari sektor primer ke sektor jasa dan industri

Dari sembilan wilayah terpilih, empat di antaranya merupakan ibukota provinsi yakni Bandung, Gorontalo, Bandar Lampung dan Padang. Tiga lainnya merupakan “kota lapis kedua”, yaitu Tangerang Selatan, Bogor dan Kota Batu – serta dua wilayah kabupaten (Gianyar dan Minahasa) yang berhasil menerobos dominasi kota-kota.

Kesembilan daerah terpilih tersebut memiliki kecenderungan serupa: adanya pergeseran sumber perekonomian dari sektor primer (pertanian dan pertambangan) ke sektor pengolahan (manufaktur, konstruksi, listrik dan gas), dan terutama ke sektor jasa (perdagangan, keuangan dan wisata).

Di daerah yang sumbangan sektor primernya sangat kecil (di bawah satu persen), seperti di Kota Bandung dan Tangerang Selatan, juga terjadi pergeseran peran dari sektor pengolahan ke sektor jasa.

Pergeseran sumber perekonomian ini sejalan dengan analisis Ari Kuncoro, ekonom yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Indonesia. “Sektor jasa,” katanya, “punya jangkauan yang lebih luas, lebih banyak masyarakat yang ikut merasakan kuenya — dan karena itu bisa lebih stabil.”

Bagi Ari, pertumbuhan sektor jasa bisa saja mendorong industri manufaktur untuk memenuhi kebutuhan pasar. “Polanya tidak harus urut dari pertanian ke industri, lalu ke jasa,” katanya. “Kita bisa melompat. Dengan jumlah kelas menengah yang banyak, bisa dimulai dari sektor jasa dulu.”

Pergeseran sumber perkonomian.
Pergeseran sumber perkonomian. Lokadata / Lokadata
Dalam kurun waktu sembilan tahun, penurunan peran-sektor-primer berturut-turut (dari yang terbesar) tampak di Kabupaten Minahasa, Gianyar dan Kota Batu. Di Minahasa, misalnya, penurunan enam persen peran sektor primer digantikan oleh sektor jasa (tumbuh empat persen), dan sektor pengolahan (tumbuh dua persen). Sementara itu, di Gianyar, penurunan peran sektor pertanian digantikan seluruhnya oleh sektor jasa.

“Kota lapis kedua” seperti Tangerang Selatan dan Bogor merupakan penyokong kota utama, yakni Jakarta. Keduanya memasok kebutuhan perumahan bagi para pekerja di kota utama, sekaligus berperan sebagai “peredam” agar urbanisasi tidak tumplek blek menyerbu Jakarta.

Kota Batu, pada era sebelum dicanangkan sebagai kota administratif, awalnya juga berperan sebagai pendukung Kota Malang sebagai pemasok kebutuhan buah, sayur, dan produk pertanian. Tapi belakangan, Kota Batu terus berkembang dan tumbuh pesat dengan sumbangan perekonomian utama berasal dari sektor jasa pariwisata.

Orang muda melimpah, begitu juga bujet non-pangan

Sembilan kota terpilih ini juga memiliki bonus demografi yang cukup tebal, dan cenderung meningkat. Rasio tenaga kerja produktif dibandingkan dengan total populasi di Tangerang Selatan, Bandung, Kota Batu, Gorontalo, Bandar Lampung, dan Bogor mencapai di atas 70 persen.

Selain dipenuhi anak muda, penduduk di kabupaten/kota terpilih ini juga memiliki porsi pengeluaran non-pangan yang cukup besar. Di Tangerang Selatan, Gianyar dan Bandung, jumlah pengeluaran non-pangan mencapai lebih dari 60 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 50,5 persen.

Besarnya porsi pengeluaran non-pangan merupakan salah satu petunjuk tingginya standar hidup. Paling tidak, penduduk di daerah ini memiliki “bumper” anggaran yang cukup besar untuk pos belanja di luar kebutuhan pokok.

Kota-kota yang perlu masuk “radar”

Selain daerah yang dipilih lantaran pertumbuhan yang stabil dalam satu dekade terakhir, Lokadata juga meneropong sejumlah kabupaten/kota yang tumbuh sangat cepat dalam empat-lima tahun belakangan ini.

Meskipun masih perlu dibuktikan dalam jangka panjang, kota-kota ini memiliki momentum yang kuat untuk “take-off”. Untuk itu, daerah kota/kabupaten ini perlu masuk radar monitor dan perlu dipertimbangkan sebagai wilayah ekspansi usaha.

Daerah-daerah potensial ini sebagian besar berada di Sulawesi, yaitu Kabupaten Toraja Utara, Kota Makasar, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Morowali, Bantaeng dan Soppeng. Sebagian lagi berada di Maluku Utara, yaitu Halmahera Selatan, Ternate Utara dan Morotai.

Di Kalimantan, ada dua kabupaten yang juga perlu masuk dalam radar, yakni Gunung Mas dan Banjarbaru. Selain itu, ada pula Kabupaten Kuningan dan Banyumas (di Jawa), serta Kabupaten Badung dan Kota Denpasar di Bali.

Yuk kita bantu klik dan share poling pemilihan Cawalkot Tangsel!

https://pollingkita.com/polling33437-polling

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply