Analis Intelijen: Pemulangan WNI Pendukung ISIS Tak Semudah Pemikiran Menteri Agama

JAKARTA ,Wacana pemulangan 600 WNI pendukung ISIS dari Suriah semakin kuat diperdebatkan. Hal ini terjadi pasca Menteri Agama, Fachrul Razi, menyatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) akan memulangkan 600 warga negara Indonesia yang tergabug dalam ISIS dari Timur Tengah.

Analis intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta, menilai wacana tersebut terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Stanislaus mencontohkan, pendukung ISIS dengan jumlah kira-kira 600 orang tersebut sudah meninggalkan tanah airnya untuk bergabung dengan kelompok teroris, yang sudah dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Selain itu sebagian besar dari mereka juga sudah membakar dokumennya seperti paspor. Pembakaran paspor ini menjadi bukti bahwa mereka memang tidak niat untuk kembali ke Indonesia.

“Tentu sangat sulit untuk memulangkan mereka jika tidak mempunyai bukti-bukti kewarganegaraan, dan masalah yang bisa muncul adalah jika orang tanpa dokumen dipulangkan ke Indonesia maka rawan terjadi penyusupan yang dampaknya tentu akan menyulitkan pemerintah Indonesia,” kata Stanislaus dalam keterangan tertulis, Selasa, (4/2/2020).

Stanislaus menambahkan, saat ini belum ada aturan atau prosedur yang jelas untuk menangani kasus seperti di atas. Jika pemerintah bisa melakukan pencabutan kewarganegaraan karena seseorang meninggalkan tanah air, dengan sengaja menghilangkan dokumen kewarganegaraan, dan bergabung dengan organisasi terlarang, tentu akan disambut baik oleh masyarakat.

Hal tersebut juga bisa menjadi bukti bahwa negara tidak memberikan toleransi terhadap warga negara yang terlibat dalam organisasi teroris trans nasional.

“Jika status pencabutan kewarganegaraan ini bisa dilakukan maka pemerintah tidak perlu repot untuk memulangkan 600 WNI pendukung ISIS di Suriah,” ucap dia.

Hal selanjutnya yang perlu diperhatikan, mengingat tekad kuatnya untuk bergabung dengan ISIS hingga rela meninggalkan tanah airnya, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang telah menjual harta bendanya di tanah air, belum tentu WNI pendukung ISIS tersebut mau untuk dipulangkan ke Indonesia.

Dengan kekuatan ideologinya, maka kemungkinan mereka untuk tetap bertahan di Timur Tengah hingga titik darah penghabisan cukup besar.

“Pemerintah tentu akan kesulitan untuk memulangkan orang yang tidak mau pulang,” kata Stanislaus.

Kemungkinan lain yang bisa terjadi adalah WNI pendukung ISIS tersebut bersandiwara dengan berpura-pura tidak radikal, mengaku hanya sebagai korban, atau memanipulasi perilaku lainnya hanya untuk menyelamatkan diri dari tekanan situasi yang berat di Suriah.

Dengan sikap itu mereka berharap dengan pertimbangan kemanusiaan dapat dipulangkan oleh pemerintah.

“Manipulasi ini adalah mekanisme survival mereka agar bisa selamat karena memang tidak sanggup lagi untuk menjalani kehidupannya,” tambah Stanislaus.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply