Penghancuran Bangunan Bersejarah Zaman Soekarno

Tangselkita.com, Banyak negara di dunia yang berlomba untuk memelihara bangunan peninggalan bersejarah mereka. Berbanding terbalik, Soekarno tidak ingin adanya sisa kolonial di Indonesia, akibatnya bangunan bersejarah penting malah dihancurkan.

Sekarang, kita hanya dapat melihat rumah kediaman tempat dibacakannya proklamasi yang terletak di jalan Pegangsaan Timur No. 56, Menteng, Jakarta, hanya lewat foto saja, karena bangunan fisiknya sudah dirobohkan, diganti dengan gedung bertingkat, yaitu gedung Perintis Kemerdekaan

Tidak diketahui alasan persis kenapa Soekarno menetapkan untuk membangun sebuah gedung pameran di atas situs bersejarah ini.
Gedung itu dimaksudkan sebagai sebuah museum atau galeri yang mempertontonkan rencana-rencana fisik besar yang digagas oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Konon, Soekarno dipengaruhi oleh euforia kemerdekaan dan tidak menginginkan adanya pengaruh kolonial Hindia Belanda di zaman kepemimpinannya. Ratanya rumah bersejarah itu menjadi gedung, dinilai menghilangkan pengaruh kolonial, tapi juga menghilangkan simbol kemerdekaan.

Kebiasaan menghancurkan bangunan bersejarah ini makin diperkuat karena masyarakat Indonesia pada saat itu belum memiliki kesadaran terhadap pentingnya benda peninggalan sejarah.
Mereka juga masih dipengaruhi semangat euforia kemerdekaan dan revolusi yang saat itu digaungkan.

Banyak gedung peninggalan pemerintah Hindia Belanda yang kala itu diambil alih oleh negara. Sebagian memang ada yang selamat, tetapi banyak pula yang hancur tak berbekas.

Saat euforia revolusi telah berganti dengan euforia pembangunan, dampak negatifnya berbagai gedung peninggalan Belanda seperti gedung perkantoran dan toko-toko yang berjejer di wilayah Jakarta, dihancurkan, diganti dengan gedung baru.

Tak hanya itu, semangat menghilangkan pengaruh Hindia Belanda juga bahkan sampai ke masyarakat yang ingin membangun rumah-rumahnya tanpa unsur arsitektur Belanda. Seperti di Cikini, Tanah Abang, Mampang, Manggarai, Keramat Jati dan Kebon Sirih, rumah-rumah sudah berganti model.

Maraknya penghancuran gedung peninggalan Belanda kala itu kerap menimbulkan tindakan penjarahan. Seperti boomerang, pemerintah Indonesia sendiri sulit mengendalikan tindakan masyarakat. Soekarno beberapa membuat peraturan untuk mencegah penjajahan tapi hasilnya nihil.

Kadang tindakan penghancuran gedung peninggalan Belanda ini dijawab dengan alasan yang klise, yakni biaya pemeliharaan gedung yang mahal.

Lain cerita lagi dengan gedung chandra naya (situs Sin Ming Hui) yang terletak di jalan hayam wuruk bekas rumah Majoor der Chineezen Khouw Kim An 1875-1946, nasibnya kini terhimpit dengan gedung pencakar langit. Bahkan dulu sempat ada rencana situs ini dipindahkan ke Taman Mini

Gedung Chandra Naya ini dulunya bekas rumah saudagar cina, parahnya karena kebencian warga Jakarta terhadap PKI pada tahun 1965, gedung ini sempat menjadi sasaran amuk masa saat itu.

Yuk kita klik dan share poling pemilihan Cawalkot Tangsel!

https://pollingkita.com/polling33437-polling

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply