3.680 Orang Jadi Korban Penipuan Perumahan Syariah di Tangsel

Para korban sindikat mafia perumahan berbasis syariah dengan pengembang atas nama PT Wepro Citra Sentosa, mengaku tertarik tawaran perumahan fiktif dari para pelaku, karena beberapa hal.

Mulai dari mencatut nama Muhanmadiyah Provinsi Banten, hingga marketing pemasaran yang mengaku sebagai ustaz.

Hal itu dikatakan Rusni (57), warga Pasar Minggu, Jakarta Selatan, salah satu dari 3680 korban sindikat mafia perumahan syariah, di Mapolda Metro Jaya, Senin (16/12/2019).

Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya kembali mengungkap sindikat mafia perumahan berbasis syariah.

Empat pelaku yang merupakan komisaris utama,direktur dan marketing pengembang atas nama PT Wepro Citra Sentosa berhasil diamankan polisi

Para pelaku yang dibekuk adalah MA alias Ari selaku Komut dan istrinya S alias Ayu,SW alias Yanto selaku Dirut dan CH alias Chepi selaku marketing

Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot EP menjelaskan para pelaku menawarkan ribuan unit rumah dan apartemen dgn berbasis syariah yg direncanakan dibangun di Maja,Tangerang dan di Buaran, Jaktim.

“Mereka menawarkan unit rumah dgn harga murah berbasis syariah,dengan iming iming bayar tanpa riba .” ujar Gatot dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya .

Beberapa perumahan yang ditawarkan kata dia harganya cukup murah yakni hanya sekitar seratus jutaan.

Syariah harganya murah, tanpa riba, tanpa checking bank sehingga masyarakat tertarik

Karenanya kata dia banyak masyarakat yang ingin memiliki rumah, tertipu dengan iming-iming pengembang. Apalagi kata dia pengembang beberapa kali melakukan pameran.

“Untuk sementara ini korban dalam kasus ini sekitar 3680 orang dengan total kerugian sekitar Rp 40 Miliar. Dari 3680 korban, sebanyak 63 orang sudah kami periksa sebagai korban dan pelapor,” kata Gatot.

Menurut Gatot, penyidik masih mendalami kasus ini untuk melihat kemungkinan adanya tersangka lain.

“Dan juga kita dalami rekening tersangka penerima uang setoran dari para korban. Saat ini diketahui tersangka MA selalu Komisaris Utama menggunakan rekening istrinya S alias Ayu untuk menampung uang dari para korban,” katanya.

Gatot memastikan bahwa sindikat mafia perumahan syariah ini tidak bekerjasama dengan organisasi Islam manapun seperti klaim pelaku dalam brosur penawaran mereka. “Kami pastikan mereka ini hanya mencatut nama organisasi islam, untuk membuat masyarakat tertarik,” katanya.
Penawaran perumahan syariah kata Gatot dilakukan para pelaku sejak 2015.

“Pengembang menjanjikan paling lambat Desember 2018, semua unit rumah di perumahan di Maja, Tangerang, Banten, sudah diserahterimakan. Namun nyatanya semua bohong karena sampai kini perumahan belum jadi,” katanya lagi

Dari pengakuan tersangka kata dia uang para korban sudah habis dipakai untuk membayar karyawan, membebaskan lahan dan pameran.

“Namun akan kami dalami lagi kemana aliran dana para korban dari rekening mereka ini. Juga akan kita sita aset mereka yang tersisa,” katanya.

Para tersangka katanya dijerat Pasal 378 KUHP tentang penipuan, Pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan Undang-Undang Perumahan serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). “Yang ancaman hukumannya hingga diatas 5 tahun penjara,” pungkas Gatot.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply