Hewan Babi , Jadi Simbol Status sosial Di Papua

Tangselkita.com, Dahulu orang Jawa kuno juga makan daging babi. Meski tak ada data berapa banyaknya, gambar mereka beternak babi terpampang dalam relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur. Kini, Jawa yang dihuni mayoritas Muslim bukan lagi pengonsumsi babi laik reken.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 yang digagas Badan Pusat Statistik (BPS), Papua lah wilayah pengonsumsi daging babi tertinggi di nusantara. Rerata konsumsi “sapi kecil” di Kabupaten Intan Jaya mencapai 760 gram per orang per bulan.

Babi adalah bagian dari budaya di Papua. Sebelum jadi santapan, babi-babi yang diternak merupakan bakal mas kawin. Banyaknya babi menunjukkan status sosial seseorang.

“Babi digunakan dalam acara tukar daging babi dan dagingnya selalu menjadi menu utama dalam setiap acara pesta jamuan yang mereka adakan,” jelas arkeolog dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto.

Uniknya, hingga kini para peneliti masih belum menemukan jawaban sejak kapan babi masuk Papua. Pasalnya, hewan ini bukan mamalia endemik provinsi yang dahulu bernama Irian Jaya ini.

Dan inilah daerah dengan urutan konsumsi daging babi tertinggi di Indonesia:

1. Intan Jaya
2. Mahakam Hulu
3. Tana Toraja
4. Sabu raijua
5. Nias Utara
6. Tabanan
7. Maluku Tenggara Barat
8. Jakarta Barat

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply