Ketua AJI Yogyakarta Tommy Apriando Meninggal Dunia

Tangselkita.com, Teman-teman, saya ingin mengabarkan bahwa Tommy pagi ini koma. Saat ini Tommy sedang dibawa ke ruang ICU PKU Muhammadiyah Gamping.” Begitu pesan masuk di grup WhatsApp, Minggu pagi (2/2/20), sekitar pukul 11.30. Ucapan dan doa datang dari kawan-kawan agar Tommy, lekas sembuh.

Selang sekitar satu jam, masuk lagi pesan yang mengabarkan kalau Tommy Apriando, jurnalis Mongabay di Yogyakarta, juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta, telah meninggal dunia.

“Kawan-kawan, saya ingin mengabarkan, Tommy meninggal baru saja setelah mendapatkan perawatan di ICU PKU Muhammadiyah.”

Dunia jurnalisme negeri ini kehilangan sosok jurnalis yang kerap menyuarakan berbagai isu kerusakan lingkungan, keterancaman warga yang mengalami kesulitan hidup karena ruang hidup terampas, alam mereka tercemar baik darat, air dan udara maupun hak-hak rakyat yang terabaikan.

Tommy meninggal dunia di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Gamping, Sleman, Yogjakarta. Tommy dibawa ke rumah sakit karena diabetes yang dideritanya. Akhir Januari lalu, Tommy juga sempat dirawat di rumah sakit selama empat hari. Pada 27 Januari 2020, dokter mengizinkan dia pulang.

“Empat hari lebih terkapar. Akhirnya diperbolehkan pecicilan lagi sama dokter. Terima kasih doanya kawan-kawan,” tulis Tommy di laman Facebook-nya.

Jenazah Tommy dibawa ke Lampung setelah disemayamkan terlebih dahulu di kediamannya di Kulon Progo, Yogyakarta. Tommy akan dimakamkan di Lampung Senin, (3/2/20).

Tommy Apriando, lahir di Desa Simbarwaringin, Lampung Tengah, 10 April 1989 dari pasangan Jamsiah dan Nusmir Unzir (almarhum).

Anak pertama dari dua bersaudara ini menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Univeristas Islam Indonesia di Yogyakarta pada 2007 dan selesai 2012. Selama jadi mahasiswa, Tommy aktif di Pers Mahasiswa. Sejak itu, Tommy sudah akrab dengan dunia jurnalisme.

Sebelum menamatkan pendidikan di Fakutas Hukum UII, Tommy sempat magang di Kontras, organisasi masyarakat yang fokus pada isu hak asasi manusia. Setelah menyelesaikan kuliah, Kontras kembali meminta Tommy mendedikasikan diri di sana dan bergelut di seputar isu HAM termasuk investigasi dan kampanye.

Kecintaan pada dunia jurnalisme, Tommy pun rajin ikut pelatihan, antara lain, kursus Jurnalisme Sastrawi di Yayasan Pantau, pada Juli 2012. Pada 2013, Tommy juga ikut Asia Pacific Journalism Centre, di Melbourne, Australia.

Tommy bergabung dengan Mongabay Indonesia, pada 2012, tahun pertama media lingkungan ini berdiri. Tommy jadi kontributor Mongabay dengan wilayah liputan di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Berbagai isu lingkungan dan sosial dia tulis, seperti soal pertambangan batu gamping untuk pabrik semen di Pegunungan Kendeng, sampai konflik lahan antara warga dan TNI di Urut Sewu.

Pembangunan PLTU Batang, PLTU Cilacap, antara lain isu yang terus dia ikuti. Dia juga konsen dengan isu pembangunan Bandara Kulon Progo dan pembangunan infrastruktur maupun industri ekstraktif lain yang mengancam lingkungan dan kehidupan warga.

Meski berbasis di Yogyakarta dan Jawa Tengah, tak jarang Tommy meliput isu di luar daerah itu.

Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Tommy menulis soal kehidupan masyarakat adat Sembalun.

Tommy juga liputan mendalam empat seri soal tambang pasir besi di Lumajang, Jawa Timur, yang menewaskan petani yang menolak tambang karena khawatir lingkungan rusak, Salim Kancil.

Pada 2017, bekerjasama dengan Tempo, Tommy ikut membongkar praktik korupsi perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur, yang banyak meninggalkan lubang-lubang tambang yang memakan 33 korban.

Tahun lalu, dia ke Buol, Sulawesi Tengah, menulis soal kasus pelepasan kawasan hutan untuk perkebunan sawit.

“Saya mengenal Tommy sejak 2012, masih muda, belum lulus kuliah. Sejak semula, saya lihat dia seorang anak muda yang selalu gelisah dengan ketidakadilan sosial dan lingkungan di sekitarnya,” kata Ridzki R Sigit, Manajer Pogram Mongabay Indonesia.

Tommy rajin menulis hasil-hasil liputan ke berbagai pelosok negeri. Dia sajikan liputan dengan detil, tajam dan menarik. “Tommy, termasuk angkatan pertama jurnalis yang bergabung dengan Mongabay Indonesia. Kami sangat kehilangan dia. Kepergiannya sangat cepat, mengejutkan kita semua,” katanya, seraya bilang, biasa mereka berkomunikasi, untuk sekadar menyapa, atau diskusi tentang suatu topik.

Pada 2019, Tommy juga terlibat dalam pembuatan film dokumenter Sexy Killers yang menguak oligarki tambang di balik pemilihan presiden di Indonesia. Tommy menjadi salah satu tim riset dan videografer film yang ditonton 20 juta orang pada bulan pertama tayang.

Dia aktif di AJI Yogyakarta. Akhir 2019, Tommy terpilih sebagai Ketua AJI Yogyakarta.

yuk kita bantu klik dan share poling pemilihan Cawalkot Tangsel!

http://pollingkita.com/polling33437-polling

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply