Negeri Intoleran ? Seorang Nenek Di Tolak Untuk Disholatkan

Tangselkita.com, Masih ingat pilkada Jakarta kemarin? Seorang nenek ditolak untuk disholatkan hanya karena memilih calon gubernur non muslim (Ahok)! Keluarga kecewa lantaran jenazah Hindun tidak disalatkan di musala Al Mu’minun yang lokasinya tidak jauh dari rumah duka.

Keluarga kecewa lantaran jenazah Hindun tidak disalatkan di musala Al Mu’minun yang lokasinya tidak jauh dari rumah duka.Neneng, putri bungsu Hindun menduga hal itu terjadi karena pilihan politik sang ibu dalam Pilkada DKI Jakarta 15 Februari 2017 lalu.

“Kami ini semua janda, empat bersaudara perempuan semua, masing-masing suami kami meninggal dunia, kini ditambah omongan orang yang kayak gitu, kami bener-bener dizalimi, apalagi ngurus pemakaman orang tua kami aja susah,” kata Neneng

Neneng menceritakan, kronologi jenazah ibundanya ditolak disalatkan di musala oleh ustaz Ahmad Syafii. Neneng mengatakan, saat itu dia dan keluarganya ingin agar jenazah Hindun disalatkan di mushola. Namun, ditolak lantaran tidak ada orang di musala.

“Alasannya, nggak ada orang yang mau nyalatin (di musala), padahal kami ini anak dan cucunya ramai menyalatkan, tapi memang orang lain (warga lain) cuma empat orang (yang datang ke rumah),” terang Neneng.

Neneng menceritakan, saat Pilkada DKI empat petugas KPPS mendatangi rumah mereka untuk meminta Hindun ikut mencoblos. Tapi karena kondisi fisik Hindun yang ringkih, dia menolak datang ke TPS. Tapi, petugas tetap ingin mengambil suara Hindun.

“Pas pemilihan itu, Mak (Hindun) disuruh nyoblos, ya namanya orang tua sudah nggak tau apa-apa, nyoblos asal aja. Kebetulan yang dicoblos nomor dua dan dilihat sama empat orang petugas itu,” terang Neneng.

Sejak itulah, kata Neneng, keluarganya dituduh sebagai pendukung penista agama. Pencoblosan yg disaksikan empat petugas KPPS itu berbuntut panjang. Neneng merasa ada yg salah dengan cara pemungutan suara terhadap ibunya. Namun saat itu Neneng tak ambil pusing.

“Ya pas nyoblos itu kan terbuka, dilihat orang banyak, saya ragu juga, bukannya nggak boleh dilihat siapapun? Kan rahasia itu pilihan. Tapi, karena Mak sakit, ya sudahlah, kami nggak ambil pusing, pokoknya nyoblos,” terang Neneng.

Pencoblosan itu, ternyata jadi malapetaka.

“Nyatanya itu yang bikin masalah, keluarga kami dituduh keluarga kafirlah, mereka anggap kami semua milih Ahok, padahal itukan Mak nggak tau apa-apa, asal nyoblos aja,” keluh Neneng. Saat mau disalatkan, kata Neneng, jenazah Hindun dipergunjingkan oleh warga.

Keputusan Ahmad Syafii untuk mensalatkan ibunya di rumah dianggap sebagai keputusan atas spanduk yang dipasang di musala.

“Di sana banyak yang bilang, jangan disalatkan, itu pemilih Ahok,” kata Neneng.

Ketika itu, kata Neneng, Ahmad Syafii berkata jenazah Hindun tak bisa disalatkan di Musala Al-Mu’minun.

“Ustadz Pii (Ahmad Syafii) bilang, ‘ga usah mending di rumah aja percuma, ga ada org’ gitu katanya, padahal anak cucu Mak banyak yg mau menyalatkan,” kenang Neneng.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply